Selasa, 18 Januari 2011

MENGAPA KITA BERKOMUNIKASI

Tujuan dasar berkomunikasi adalah untuk mengagendakan lingkungan fisik dan Psikologis kita.

Fungsi isi komunikasi : Yang melibatkan pertukaran informasi yang kita perlukan untuk

menyelesaikan tugas dan fungsi hubungan bagaimana hubungan kita denmgan orang lain.

Funfsi I Komunikasi menurut William. I. Gorden ada 4 fungsi teori

1. Konunikasi Sosial

2. Komunikasi Ekspresif

3. Komunikasi Ritual

4. Komunikasi Instrumental

Keempat fungsi ini tidak saling meniadakan tetapi keempat fungsi tersebut berkaitan satu sama lainnya.

1. Komunikasi Sosial

Dalam hal ini komunikasi itu penting untuk membangung konsep diri kita, untuk kelangsungan hidup, terhindar dari ketegangan dan tekanan melalui komunikasi. Yang bersifat menghibur dan memupuk hubungan dengan orang lain.

Nama lain dari komunikasi sosial adalah fungsi komunikasi kultural bahwa komunikasi dan budaya memupuk hubungan timbal balik seperti halnya satu mata uang budaya menjadi bagian dari prilaku komunikasi dan pada gilirannya komunikasipun turut menentukan atau mewariskan budaya.

Maka benar kata Edward T. Hall “budaya adalah komunikasi” dan “komunikasi adalah budaya”

Menurut Alfred Korzybski bahwa kemampuan manusia berkomunikasi menjadikan mereka “pengikat waktu” ini merujuk pada kemampuan manusia untuk mewariskan pengetahuan dari budaya ke budaya.

Sebagian kesulitan dari komunikasi berasal dari fakta bahwa kelompok-kelompok budaya atau subkultur yang ada dalam suatu budaya merupakan perangkat norma yang berlainan.

PEMBENTUKAN KONSEP DIRI

Konsep diri adalah pandangan kita mengenal diri kita dan itu hanya bisa kita peroleh melaui informasi yang diberikan orang lain kepada kita.

Konsep diri kita yang paling dini umumnya dipengaruhi oleh keluarga dan orang-orang dekat lainnya disekitar kita, termasuk kerabat. Mereka itulah yang disebut Signifikan Others. Orang tua kita termasuk yang memelihara kita pertama kalinya meskipun kita berupayah berprilaku sebagai mana yang diharapkan orang lain, kita tidak pernah secara total memenuhi pengharapan orang lain tersebut.

Aspek-aspek konsep diri seperti agama, kesukuan, pendidikan, rupa sisi kita dsb. Kita nyatakan melalui upah balik orang lain yang menegaskan aspek-aspek tersebut pada kita, yang pada gilirannya menuntut kita berprilaku sebagaimana orang lain memandang kita.

Identitas ednik dari seseorang mampu berkembang melalui internalisasi atas “penghargaan” diisi pada orang lain yang kuhususnya orang –orang dekat disekitarnya dan prilaku ditorik tidak terjadi hanya pada masa kanak – kanak kedalam keluarga namun bisa lebih keras lagi moralnya pada lingkungan diluar tersebut dan pada tetapi kehiduipan selanjutnya (apabila orang tersebut masuk komunitas baru). Sehingga aspek diri merupakan realitas yang diterima begitu saja dan tidak perlu dipersoalkan lagi (teker – for – granted reality).

George Her ber mead mengatakan manusia mengembangkan konsep dirinya dengan bertransaksi pada orang lain (masyarakat) dan itu dilakukan dengan berkomunikasi sehingga kita dapat mengetahui sifat kita dari orang lain yang seolah –olah menjadi cermin bagi kita yang memunculkan bayangan kita. Charles H. Cooly menyebutnya “The looking glass self”, yang secara signifikan ditentukan pikiran seorang mengenai pikiran orang lain. Jadi menekankan betapa pentingnya respon orang lain yang dijadikan sebagai sumber primer data mengenai diri.

Teori konsep diri oleh Mead berlaku pula pada proses pembentukan identitas etnik yang berarti bahwa konsep diri yang dipandang spesifik secara buadaya dan berlandaskan keetnikan, secagai contoh orang yang dilahirkan pada neoretika dan geogafis tertentu maka lingkungan sosialnya akan menyediakan suatu skema dan rujukan yang akan mempengaruhi kehidupan sosialnya dan menfsirkan pada pengalaman hidupnya.

Dalam konsep diri dan agama, kesukuan memegang peranan penting didalamnya. Karena dalam menjelaskan identitas kita asal usul juga merupakan suatu kebutuhan primodial yang pada dasarnya tidak luntur oleh perkembangan peradaban sebagai contoh apabila ziarah kemakam leluhur kita didesa.

Proses konseptualitas diri berlangsung terus dan bergantung pada pengetahuan yang kita terima serta konsep diri tidak pernah terisonali melainkan ketergantungan pada respon dan reaksi orang lain, karena respon dan reaksi orang lain sangat menentukan akan jadi apa kita namun umumnya kita mencoba memenuhi apa yang orang harapkan pada kita dengan berusaha keras terasa dalam memenuhi anggapan itu.

Kesan yang kita miliki tentang kita bergantung pada cara kita berkomunikasi pada mereka termasuk cara bicara dan berpakaian. Ketika orang lain memberi komunikasi karena reaksi orang lain tidak sesuai dengan cara kita memandang diri kita sehingga citra diri yang anda miliki tentang diri anda dan citra yang orang lain tentang diri ada berkaitan dengan komunikasi.

Dengan memperkirakan konsep diri dan menyadari pentingnya citra diri dimata orang lain, kita dapat menduga dari keatas atau golongan mana ia berasal. Sebagai contoh dalam masa orde baru menirulah tata bahasa yang keliru agar dipandang intelektual dan medern.

Pernyataan Ekoistensi Diri

Orang berkomunikasi untuk menyatakan dirinya ekois, pernyataan itu bisa disebut aktualisasi diri atau pernyataan ekstensi diri. Pernyataan ini bermaksud apabila kita berdiam diri maka orang lain akan memperlakukan kita seolah – olah kita tidak eksis namun ketika kita berbicara kita sebenarnya menyatakan bahwa kita itu akan sebagai contoh fungsi komuniklasi sebagai eksistansi diri yaitu pada fenomena yang muncul dalam SU MPR bulan oktober 1999, banyaknya anggota sidang yang memunculkan intensi yang asal-asalan, tidak relevan, kocak, konyol dsb. Terkesan bahwa mereka ingin menujukkan keeksistensinya disidang umum MPR, walapun interupsi mereka bukan pada persoalan substensial dan mendesak.

Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan dan memperoleh kebahagiaa.

Sejak lahir kita tidak dapat hidup sendiri dalam mempertahankan hidup kita perlu berkomunikasi dengan orang lain. Untuk memenuhi kebutuhan biologis dan phisikologis.

Kerena psikolog berpendapat bahwa kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia yaitu hubungan sosial yang ramah. Abraham Masloh menyebutkan bahwa manusia mempunyai lima kebutuhan dasar : kebutuhan psikologis, keamanan sosial, penghargaan diri dan aktualitas diri. Kita mungkin sudah mampu memulai kebutuhan psikologis dan keamanan untuk bertahan hidup, namun kebutuhan sosial, lingkungan diri dan aktualisasi diri tidak boleh diabaikan karena kebutuhan ketiga dan keempat meliputi keinginan untuk memperoleh rasa aman lewat rasa memiliki dan dimiliki, pergaulan, rasa diterima, memberi dan menerima persahabatan. Komunikasi sangat dibutuhkan untuk memperoleh dan memberi informasi, mempengaruhi orang lain, mempertimbangkan solusi aktematif atas masalah pengambilan kepustusan dan tujuan – tujuan sosial serta hiburan.

Menurut Rene Spitz komunikasi adalah jembatan antara bagian luar dan bagian dalam kepribadian dan mulut merupakan jembatan antar persepsi dalam dan persepsi luar.

Komunikasi yang pertama yang dipelajari manusia adalah komunikasi yang terjadi sejak kita bayi seperti sentuhan orang tua kepada anaknya dan anak tersebut memberi respon akan tetapi komunikasi seperti ini belum tentu bisa dirasakan oleh orang lain, dengan kata lain komunikasi ini hanya terjadi antara orang tua dengan bayi tersebut. Pada tahap ke 2 anak memasuki lingkungan yang lebih besar seperti kerabat, keluarga, komunitas, sekolah dan anak tersebut harus mengembangkan keterampilan baru untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan lebih luas. Pada tahap ke 3 anak memasuki dunia kerja dan mulai beranjak dewasa dan akan semakin banyak lagi komunitas yang ia butuhkan.

Dengan komunikasi pula kita belajar maka cinta, belajar, kasih sayang, simpati, rasa hormat. Melalui komunikasi pula kita dapat mengalami berbagai kualitas perasaan itu dan membandingkannya antara perasaan itu dengan membandingkan antara perasaan yang satu dengan perasaan yang lainnya.

Dengan memupuk perasaan-perasaan positif dan mencoba menetralisasikan perasaan – perasaan negatif orang yang tidak memperoleh kasih sayang dari orang lain akan mengalami kesulitan untuk menaruh perasaan itu terhadap orang lain karena dia sendiri tidak pernah merasakan perasaan tersebut. Untuk menumbuhkan atau memupuk kehangatan dari orang lain kita harus memupuk komunikasi (phatic komunication) yaitu ucapan salam yang kita berikan kepada orang lain, menanyakan keadaan keluarga, pekerjaan.

Komunikasi sosial mengisyaratkan bahwa komunikasi dilakukan untuk pemenuhan diri dalam komunikasi, pokok pembicaraan atau kata – kata tidaklah penting.

Orang yang tidak memperoleh kasih sayang dan kehangatan cenderung bersikap agresif. Akhirnya agresivetas melahirkan kekerasan terhadap orang lain seperti ditunjukkan berbagai peneliti.

Sekarang komunikasi tidak hanya omong-omong atau bicara sembarangan, tetapi selain itu ada yang jauh lebih penting ternyata komunikasi juga ada hubungannya dengan kesehatan. Menurut kesehatan seseorang yang sering berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain maka kemungkinan terkena penyakit jantung lebih kecil dari pada orang yang sehari-harinya menutup diri tidak mau bersosialisasi yang lebih tinggi potensinya terkena penyakit jantung.

Menurut kesimpulan kami apabila seseorang tidak pernah berkomunikasi maka orang itu mempunyai potensi stress lebih tinggi dari pada orang biasa karena apabila seseorang mempunyai masalah maka komunikasi adalah salah satu cara yang efektif untuk mengurangi beban dipikirnnya. Bentuk komunikasi itu antara lain curhat dengan sahabatmu, pacar. Bandingkan dengan orang lain menurut kesehatan seseorang yang tidak pernah bersosialisasi dengan orang lain menurut kesehatan seseorang yang tidak pernah berkomunikasi ada peningkatan resiko terkena pilek akut yang disebabkan 5 virus yang berbeda lalu penyakit jantung akut, lebih cepat mati. Menikah adalah salah satu bentuk komunikasi yang baik karena didalam keluarga kita akan diajari secara alami bagaimana berkomunikasi memecahkan masalah, berkomunikasi dengan anak yang belum bisa bicara dll.

Pada zaman dahulu satu contoh yaitu Raja Federik II penguasa sicilia abad ke 13 membuat percobaan dengan memasukkan sejumlah anak ke laboratorium memang disusui tetapi tidak pernah diajak bicara akibatnya sangat mengejutkan bayi – bayi itu mati lebih cepat dari pada anak seusia mereka yang hidup normal sampai – sampai ada ungkapan “ If you arenos stroked your spinal cord will shrivel up “. Jika engkau tidak mendapatkan dalam urat saraf tulang belakangmu akan layuh. Jadi memang benar ajaran Rosullulah sang ilmuwan sejati abad 14 bahwa silaturahmi memperpanjang usia.

Fungsi Kedua : Komunikasi Ekspresif

Pada bahasan kali ini kesimpulan kami komunikasi sosial dan komunikasi ekspresif sangat erat hubungannya. Kurang lebih

Tujuan komunikasi eksperesif ialah suatu hasil bagaimana suatu ekspresi itu dapat menyampaikan perasaan –perasaan emosi kita. Pesan emosi itu dapat diwakili dengan gambaran, terbawa cemberut, merah atau yang lebih spesifik bagaimana seorang sahabat yang menepuk-nepuk punggung teman yang lagi putus sama pacanya. Menpuk-nepuk tadi adalah bentuk rasa toleransi sisahabat kepada temannya itu, atau bisa saja melalui musik, biasanya musik ungkapan emosi kita yang paling dalam. Apabila kita putus sama pacar biasanya kita akan menyayikan lagu sedih, banyak cara mengekspresikan emosi kita melalui banyak wdah cara mengekspresikan emosi kita melalui banyak wadah komunikasi seperti salah kami sebutkan diatas dan itu adalah kemampuan alami seseorang manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar